aikidofitaliano.org

Karena semangat untuk Eksis begitu menggebu, kami pun meng Eksis kan diri lebih personal, dengan membuat nama domain kita sendiri :

aikidofitaliano.org

Sehingga, mulai Januari 2009, Blog kita di wordpress, resmi hijrah ke domain kita sendiri.

Dengan nama yang mudah diingat, — dan kalo lupa bisa nanya ke Google (asal ingat nama dojonya, hehe), anda semua bisa mengunjungi situs kami, dan berbagi informasi seputar dunia Aikido, dan seputar dunia Beladiri secara umum, sehingga informasi yang kita bagi nantinya bisa memberikan sumbangsih pada seni yang kita cintai ini.

Selamat berkunjung ke aikidofitaliano.org.

Salam.

Fitaliano Aikido Dojo and Fam

Download lampiran aslinya

by Kenny Dewi

Apa sih bedanya dojo kami dengan dojo lainnya? Pertama, rentang usia yang cukup bervariasi (dari 6 tahun sd bapak-bapak) , Kedua, orangnya asyik-asyik (yang ini rada muji diri sendiri) Ketiga, untuk menjalankan “retention program” maka sensei Moko mendukung berbagai kegiatan outing. Yalah, masak iya mau latihan melulu (perangnya kapan????), kami pun manusia yang mau diajak bersenang-senang. 

Setelah beberapa kali program outing ( halal bihalal di rumah Pak Sandy, nonton bareng di PIM, buka puasa bersama di rumah Pak Helmi, nongkrong bareng di Kaliabata), tercetuslah ide untuk jalan-jalan (LAGI), tapi kali ini agak jauhan yaitu ke Puncak .2 malam 3 hari. Waduh. Catatan : diperbolehkan membawa keluarga . 

Sebelum berangkat, diadakan koordinasi kilat atas upaya yang dituakan; Pak Helmi, selaku tuan rumah secara villa beliau lah yang dipergunakan untuk kemaslahatan ini. Lalu para ibu-ibu berkoordinasi perkara menu makanan dan besaran iuran.  

Singkat cerita, terdaftarlah …..anggota aktif yang menyatakan diri akan berangkat. Pada hari Jumat, tanggal …. Berkumpullah kami di dojo.

Menunggu pak Cheppy yang datang terlambat

Menunggu pak Cheppy yang datang terlambat

Setelah menunggu dan menunggu, konvoi 4 mobil diberangkatkan pukul 21.00 :

·     Mobil 1 ;Pak Helmi plus istri, dua anak, 1 pengasuh,

·     Mobil 2 :P ak Sandy plus istri, 3 anak, 3 pengasuh

·     Mobil 3 : Papa Real, Mama Real, Tentu saja Real dan Dewi adik Real.

·     Mobil 4 : Adi , Jefta, Daniel,  Anggi, Jeremy, dan  Pak Cheppy , ,

Ternyata perjalan tersendat di tol dan kami mencapai lokasi sekitar pukul 23.00. Disambut udara yang dinginn..brrrrr..yang tadinya tak ada acara makan malam, karena kebaikan hati Ibu Ayu Helmi, tersedialah nasi goreng dan kerupuk yang tak terlupakan rasanya karena kedahsyatannya menghilangkan rasa lapar sebelum mendarat di pulau kasur. Femi dan suami tiba sekitar tengah malam dan pasangan berkendara motor : sensei Moko dan Ridwan datang keesokannya.  Luar biasa ternyata animo acara ini , sampai tengah malam dan bermotor pun rela ditempuh ! 

Datang.. langsung makaaaan..

Datang.. langsung makaaaan..

Kegiatan utama di villa adalah : Makan. Boleh percaya atau tidak, apa saja yang tersedia, habis disantap! Tentunya hal ini menambah keriaan para penguasa dapur: semacam compelement bahwa Cuma ada 2 kategori makanan : ENAK dan ENAK SEKALI.

Hari sabtu pagi, roti panggang-coklat-keju-susu . Dilanjutkan acara berenang dan bermain bola (atu dimainin bola?). Makan siang sayur asem, ikan goreng, sambal dan lalapan …yummmy. Dilanjutkan pisang goreng di sore hari sambil bercengkerama santai. Malam minggu menu masakan Jepang sederhana : miso shiru, chicken teriyaki dan salad wortel.  Ludes dalam sekejap.

hmm.. yummy..

hmm.. yummy..

Kemudian dikabarkan sensei Ferdi akan datang , sehingga sekitar pukul 21.00 kami keluar dari villa menuju ke hotel ……… dan sudah tersedia jagung bakar sambil menunggu sensei. Lihatlah apa perbedaan dari kedua foto berikut (Waks). Sekitar pukul 23.00 kami kembali ke villa dan bincang-bincang dengan sensei Ferdi yang ternyata datang tanpa keluarga. 

Minggu pagi diwarnai dengan sarapan onigiri, nasi kepal Jepang berisi abon ayam dan mayonaise dan dibalut nori(rumut laut kering).  Sekitar pukul 10 ada tamu yang memperkenalkan salah satu produk kesehatan, yang kemudian dilanjutkan makan siang : pepes ikan, pepes ayam, sayur lodeh, tempe oseng-oseng, bakmi goreng, Wow.  Memang makan bersama macam begini akan berakibat rasa senang dan efek samping penambahan berat! Sebelum meninggalkan villa, masih ada lagi rujak ! 

Hayahhhhhhhhhhhh…tinggal satu hal yang kurang : bikin lagu hymne dojo fitaliano nih! 

)

Berkumpul.. berfoto.. sebelum pulang.. ah,.. senang :)

 
 
 

 

 

Quote of The Week

“Whenever i move, that’s Aikido”

(Morihei Ueshiba)

o-sensei

JO Suburi

Buat yang akan ujian pertengahan bulan ini. Di Dojo pasti nggak sempet nginget apa aja nama Jo Waza. Padahal nanti kalo pas ujian, sensei nya nggak mungkin pake basa Indonesia nyebutinnya. Karena ini beladiri Jepang, jadi istilahnya pake basa Jepang semua ( Ya iyalah!!)

Nah, makanya, 20 Jo Suburi itu, kita review disini. Biar sensei kita gak capek-capek nyontohin, kita hafalin aja dari video ini. Nyampe Dojo, tinggal di koreksi aja sama senseinya, kali aja ada bentuk yang beda.

ok. Selamat latihan JO!

Salam.

Contact

Untuk Anggota dan pengunjung umum yang ingin mengirim tulisan, atau kritik dan saran, silakan dikirim ke alamat kami :

aikidofitaliano@gmail.com

Salam.

Profil Sensei

Dojo Fitaliano saat ini dipimpin oleh Moko Sensei (Dan 1).  Bergabung dengan KBAI pada tahun 2001, dan menjadi angkatan pertama dari dojo ini.

(Profil lengkap segera hadir)

moko-sensei

Aikido : The Art of Fighting Without Fighting

Kemarin saya baca buku dengan judul diatas : Aikido, The Art of Fighting without fighting.  Buku itu memberikan banyak solusi bagaimana menyelesaikan sebuah pertarungan tanpa bertarung, dengan jalan Aikido.

Hah? Ber Aikido tapi tidak ber tarung? Kok bisa?

Untuk memberikan gambaran akan hal ini, sang penulis, dalam kata pengantarnya memberikan sebuah ilustrasi cerita yang menarik. Cerita itu kalau kita adaptasi secara bebas, dengan latar kejadian di Jakarta, kira-kira seperti ini :

“..  Alkisah ada seorang murid Aikido, yang belajar dengan tekun selama bertahun-tahun dengan sensei nya. Sang Aikidoka ini kebetulan memang anak baik-baik, sehingga jarang terlibat dalam masalah. Maka suatu hari diapun menjadi resah. Kapan ilmu Aikido ini bisa aku terapkan di jalanan? Sudah bertahun-tahun aku belajar Aikido, tapi nggak pernah membuktikan kehebatan teknik Aikido. Akh, bagaimana ini? Begitulah kira-kira pikiran sang Aikidoka tadi. Semakin keras berlatih, semakin resahlah dia. Apalagi para seniornya menceritakan dengan penuh kebanggaan, bagaimana mereka bertarung di jalanan. Maka semakin bulatlah tekad dia untuk mencoba teknik Aikido di jalanan, sesegera mungkin.

Dan hari itupun tiba. Suatu malam, pulang kerja, dia naik Busway terakhir dari Blok M.  Jalanan Jakarta sudah lengang, dan suasana Busway tampak sepi. Kemudian, di sebuah pemberhentian busway, masuklah seorang pria yang tampak mencurigakan. Dia mabuk. Sejak masuk sudah terdengar dia mengomel tidak karuan. Ngomong kasar, maki sana maki sini. Aroma minuman sudah tercium dari mulutnya. Begitu masuk, dia sudah mengajak ribut penumpang di dekat pintu masuk. Semua tampak ketakutan dengan si pemabuk.  Apalagi badannya besar dan logatnya kasar. Suasana Busway makin mencekam. Disaat inilah sang Aikidoka tadi justru gembira bukan main, bertemu sebuah momen penting dalam hidupnya. Ah, ini dia. Saatnya praktek waza. Oh, sensei.. doakan saya. Demikian kata hatinya.

Sang pemabuk memaki semua orang dengan menyeramkan dari ujung ke ujung. Penumpang tidak ada yang berkutik. Sang Aikidoka jadi tidak sabar menunggu gilirannya. Dia duduk saja menanti sang pemabuk mendekatinya. Toh memang seperti itulah yang diajarkan di dojo bukan? Biarlah sang Uke menyerang lebih dulu, dan Nage pun beraksi. Semakin tidak sabar saja sang Aikidoka ini. Tak lama kemudian, sang pemabuk sampai di tempat dia. Mereka sudah saling tatap. Sang Aikidoka sudah siap dengan segala kemungkinan. Sudah sejak tadi dia menjaga kamae nya.

Tiba-tiba, seorang penumpang pria di depannya, menegur pemabuk itu dengan halus. ‘mas.. mas.. kenapa sih, dari tadi kok marah-marah mulu. Kayaknya lagi banyak masalah ya di kantor? Sante aja, mas. Duduk aja disini dulu,  sebelah saya kosong, kok..  silakan.. disini nggak ada yang mau ribut kok sama mas.. ‘

Suasana hening.

Sang pemabuk kemudian duduk di samping pria itu. Dan dalam beberapa percakapan akrab selanjutnya, sang pemabuk sudah menitikkan air mata, menangis menceritakan semua masalahnya. Masalah di rumah, masalah di kantor, masalah kehidupan. Sang Aikidoka tertegun. Dia bingung, kagum, dan sekaligus tersadar : ‘Inilah Aikido yang sebenarnya.. ‘..”

Seringkali, kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Seringkali, komunikasi verbal, cukup. Apalagi ketika itu digunakan dalam kesadaran prinsip Aikido. Sebuah prinsip yang mendahulukan kasih sayang.

Salam.

Tanya Jawab dengan Sensei Ferdi

 

Tanya Jawab dengan Sensei Ferdi

 

Dojo Pusat
16 November 2008

 

Tanya : Sensei, saat kita bertarung, dengan musuh lebih dari satu, apa yang harus kita lakukan? Apakah mengandalkan refleks, atau harus dipikirkan?
Jawab : Diperhitungkan. Karena pertarungan, itu bukan refleks. Tapi ada perhitungan. Kalau dengkul kita dipukul, oleh dokter, terus kita nendang, nah.. itu reflek. Atau bahu kita di colek dari belakang, trus kita reflek memukul, itu reflek. Tapi dalam pertarungan, saat kita menghadapi lawan, maka yang kita lakukan adalah perhitungan. Ketika musuh di depan mata, sebenarnya kita bisa menghitung, arah gerak dia, kapan dia sampai ke kita, dan reaksi kita. Dan semua perhitungan itu kita dapat dari latihan. Latihan akan memunculkan kepekaan beladiri. Memunculkan rasa. Itulah kenapa dalam bahasa kita, beladiri disebut dengan Silat. Silat itu artinya berstrategi. Jadi dalam berkelahi memang ada perhitungan, ada strategi yang dipikirkan.

 

Tanya : Trus, bagaimana kalau kita emosi, sensei. Kayaknya semua waza jadi lupa?
Jawab : Nah, emosi itulah yang harus kita kontrol. Bukan hanya dalam beladiri, ya. Dalam segala hal, emosi itu akan menghilangkan pengetahuan. Seperti tadi saya bilang. Bedanya orang berani dengan orang nekat. Nekat itu bodoh. Karena keberanian dia, muncul tanpa pengetahuan. Jadi, memang ada dua hal yang harus kita lawan : emosi, dan ketakutan.

 

Tanya : Bagaimana cara latihan, saat kondisi fisik kita tidak mendukung, sensei?
Jawab : Mm.. kalau saya, ya.. kalau saya.. pada saat saya latihan.. apa yang ada pada saya di saat itu.. itulah yang saya latih..

Sensei Ferdi Tentang Menghindari Serangan

Dojo Pusat
Minggu, 16 November 2008

“… kita harus memiliki kepekaan beladiri. Hanya orang bodoh saja yang mendatangi kepalan. Jadi harus ada usaha menghindar ya. Ukemi. Kalau seseorang itu sudah pernah berkelahi, sudah pernah merasakan kena pukul, dia pasti akan menghindari kepalan. Begitu lawan sudah mengeluarkan kepalan, pasti sudah terbayang rasa sakitnya oleh dia, sehingga dia akan menghidar.
Bedakan antara keberanian dan nekat. Nekat adalah berani tapi tanpa pengetahuan. Bodoh. Maaf saya harus gunakan kata yang kasar. Tapi saya harus bilang ini.
Jadi jangan mendatangi pukulan. Usahakan menghindar. Jangan asal masuk…. “

– Sensei Ferdi

Sensei Herda Tentang Randori

Dojo Pusat
9 November 2008

“ …Manfaatkan seminim mungkin ruangan. Jangan terlalu banyak bergerak. Jangan boros energi. Jangan menyerahkan tubuh untuk diserang. Kita tidak pernah tahu serangan apa yang akan muncul. Seringkali kita berharap serang ini yang muncul, tetapi justru serangan itu yang muncul. Kita jadi panik. Maka selalu, letakkan posisi tangan kita diatas, dalam posisi siap, untuk jenis serangan apapun…”

– Sensei Herda

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.